SURABAYA, Cekpos.id — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya berhenti pada kemeriahan acara dan seremonial keagamaan. Momentum tersebut juga menjadi pengingat pentingnya menerjemahkan keteladanan Rasulullah SAW dalam bentuk kepedulian nyata terhadap sesama.
Pesan itu mengemuka dalam kegiatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang digelar pada Rabu malam, 9 September 2026, di kawasan Pogot Jaya Gang 6, Kelurahan Kapas Madya, Kecamatan Tambaksari, Surabaya.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat turut memberikan santunan kepada anak-anak yatim. Kegiatan sosial itu menjadi bagian dari upaya menghadirkan nilai kepedulian di tengah peringatan keagamaan.
Santunan anak yatim tidak hanya dipandang sebagai pemberian bantuan secara materi. Lebih jauh, perhatian dan kepedulian masyarakat diharapkan mampu memberikan dukungan moral serta rasa dihargai kepada anak-anak yang kehilangan salah satu atau kedua orang tuanya.
Di tengah berbagai persoalan sosial yang dihadapi masyarakat, kepedulian semacam ini memiliki arti penting. Sebab, bantuan yang diberikan secara langsung memang tidak serta-merta menyelesaikan seluruh kebutuhan anak yatim, tetapi dapat menjadi bentuk solidaritas sekaligus meringankan sebagian beban mereka.
Namun demikian, terdapat pesan yang lebih besar dari kegiatan tersebut: kepedulian jangan berhenti ketika acara selesai.
Peringatan Maulid Nabi seharusnya menjadi ruang untuk melakukan refleksi. Nilai kasih sayang, kepedulian, dan perhatian terhadap mereka yang membutuhkan tidak hanya diwujudkan setahun sekali, tetapi idealnya menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Dengan demikian, santunan bukan sekadar agenda pelengkap dalam peringatan Maulid Nabi. Kegiatan tersebut dapat menjadi sarana untuk membangun kesadaran bahwa keberadaan anak yatim merupakan tanggung jawab sosial yang membutuhkan perhatian secara berkelanjutan.
Selain memberikan santunan, kegiatan tersebut juga mempertemukan masyarakat dalam suasana kebersamaan. Interaksi antarwarga dapat memperkuat semangat gotong royong sekaligus membangun kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Maulid Nabi pada akhirnya bukan sekadar tentang mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai yang beliau ajarkan dapat hadir dalam kehidupan nyata.
Kasih sayang kepada sesama, perhatian kepada mereka yang membutuhkan, serta kesediaan untuk berbagi merupakan bagian dari keteladanan yang relevan untuk terus dihidupkan.
Karena itu, kegiatan santunan anak yatim di Tambaksari diharapkan tidak hanya meninggalkan kesan sebagai sebuah acara seremonial, tetapi juga menjadi pemantik agar kepedulian sosial terus tumbuh dan dilakukan secara konsisten.
Mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan memperingati kelahirannya. Keteladanan itu justru akan semakin bermakna ketika diwujudkan melalui sikap dan tindakan yang memberikan manfaat bagi orang lain.














