SURABAYA, Cekpos.id — Menjelang Muktamar, media sosial dipenuhi kabar, potongan video, tuduhan, serta narasi yang membawa-bawa nama lora, gus, kiai, pengurus, dan warga NU. Ada usulan membentuk “KPK NU”, ada tuduhan tentang harta dan rumah yang memiliki lift, ada ejekan bahwa seseorang tidak pantas memimpin karena dianggap tidak bisa mengaji.
Ada pula isu muktamirin dikarantina, dikumpulkan di kantor partai, hingga kabar pembagian uang puluhan bahkan ratusan juta demi suara.
Jika memang ada pelanggaran, bawalah data dan bukti. Tempuh mekanisme organisasi serta jalur hukum. Jangan menjadikan dugaan sebagai vonis, kabar berantai sebagai fakta, dan media sosial sebagai ruang pengadilan tanpa hakim. Kritik itu perlu, tetapi fitnah dan penghinaan bukanlah kritik.
Sebagai warga nahdliyin, saya turut prihatin melihat suasana ini. Muktamar yang seharusnya menjadi ruang musyawarah para ulama dan warga NU untuk menentukan arah jam’iyah, berisiko berubah menjadi panggung saling mempermalukan, saling mencurigai, dan saling menjatuhkan.
NU ini didirikan para muassis dengan ilmu, perjuangan, tirakat, dan akhlak. Ada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, ada KH Wahab Chasbullah, serta para masyayikh yang mengajarkan adab dalam berbeda. Mereka tidak mewariskan NU agar menjadi arena cacian, olok-olok, dan pertengkaran tanpa kendali di ruang publik.
Satu pertanyaan untuk kita semua: Apakah para muassis NU ridha melihat nama NU, nama kiai, dan nama pesantren dipakai untuk saling memaki di media sosial?
Berkata kasar di ruang publik bukan tanda keberanian. Anak kecil pun bisa mencaci. Preman jalanan pun bisa berteriak dan merendahkan orang lain. Yang hebat adalah mampu mengkritik dengan dalil, data, dan argumentasi; tegas tetapi santun; berbeda tetapi tetap menjaga kehormatan sesama.
Jangan merasa paling membela NU hanya karena paling keras menghina pengurus NU. Jangan merasa paling menjaga marwah hanya karena paling rajin menyebar dugaan tentang orang lain. Marwah NU tidak dijaga dengan mempermalukan NU di hadapan masyarakat.
Mari kembali kepada adab para pendiri: tabayun sebelum menyebarkan, musyawarah sebelum memutuskan, dan menjaga lisan ketika berbeda. Muktamar boleh menjadi arena pilihan dan perbedaan pandangan, tetapi jangan sampai menjadi alasan bagi kita untuk kehilangan akhlak.
Mari kita doakan Muktamar berjalan lancar, aman, bermartabat, melahirkan keputusan terbaik, serta menjaga persatuan NU demi kemaslahatan umat dan bangsa.














