Tinggalkan Jejak Pengabdian, Muhammad Qoomarudin Ingatkan BEM UNIWARA tentang Esensi Kepemimpinan Mahasiswa

banner 120x600

PASURUAN, Cekpos.id — 21 Oktober 2026Pergantian kepemimpinan dalam organisasi mahasiswa tidak semestinya dimaknai sebatas berakhirnya masa jabatan dan dimulainya kepengurusan baru. Lebih dari itu, momentum Serah Terima Jabatan (Sertijab) Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas PGRI Wiranegara (UNIWARA) menjadi ruang refleksi tentang arah gerakan mahasiswa, tanggung jawab intelektual, dan kebermanfaatan organisasi bagi masyarakat.

 

Muhammad Qoomarudin, Ketua BEM UNIWARA periode sebelumnya, menekankan bahwa mahasiswa harus mampu melampaui rutinitas akademik dan organisasi dengan menghadirkan tujuan serta dampak nyata dalam setiap aktivitasnya.

 

“Jangan sekadar kerja, kerbau pun bekerja. Jangan sekadar belajar, gajah pun pintar. Jangan sekadar ngomong, Prabowo pun ngomong. Jadi, jadilah manusia yang memiliki tujuan, hidup yang bermakna, dan mampu memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar,” ujar Muhammad Qoomarudin.

 

Pesan tersebut menyoroti pentingnya membangun kesadaran bahwa aktivitas tanpa tujuan berisiko kehilangan makna. Dalam konteks organisasi mahasiswa, kesibukan menjalankan program kerja tidak otomatis menunjukkan keberhasilan apabila tidak disertai evaluasi, gagasan yang terukur, dan manfaat yang dapat dirasakan oleh mahasiswa maupun masyarakat.

 

Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab lebih dari sekadar menjadi peserta pendidikan tinggi. Mahasiswa juga dituntut mengembangkan nalar kritis, melakukan kajian terhadap persoalan sosial, serta mengambil peran dalam mendorong perubahan melalui cara-cara yang intelektual dan bertanggung jawab.

 

Orientasi tersebut selaras dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiga pilar ini perlu menjadi landasan dalam merumuskan arah gerakan BEM agar kegiatan organisasi tidak terpisah dari tanggung jawab akademik dan realitas sosial.

 

Dalam kerangka tersebut, BEM dapat berfungsi sebagai ruang artikulasi aspirasi mahasiswa, pengembangan kepemimpinan, sekaligus jembatan dialog antara lingkungan kampus dan masyarakat. Peran tersebut membutuhkan keberanian menyampaikan kritik, kemampuan membangun argumentasi berbasis data, serta kesediaan menawarkan solusi yang konstruktif.

 

Sertijab Ketua BEM UNIWARA juga menjadi momentum bagi kepengurusan baru untuk melanjutkan program yang relevan, mengevaluasi kekurangan, dan memperkuat budaya organisasi yang demokratis serta akuntabel. Estafet kepemimpinan harus disertai kesinambungan nilai dan tanggung jawab, bukan sekadar pergantian figur.

 

Bagi kepengurusan lama, berakhirnya masa jabatan merupakan bagian dari siklus organisasi. Sementara itu, bagi kepengurusan baru, amanah yang diterima membawa konsekuensi untuk menjaga kepercayaan mahasiswa melalui kerja nyata dan komitmen terhadap kepentingan bersama.

 

Pada akhirnya, kualitas kepemimpinan mahasiswa tidak hanya tercermin dalam pidato, popularitas, atau jumlah kegiatan yang terlaksana. Ukuran penting lainnya adalah kemampuan organisasi menumbuhkan tradisi intelektual, memperjuangkan aspirasi secara bertanggung jawab, serta meninggalkan manfaat yang berkelanjutan.

 

Pesan Muhammad Qoomarudin menjadi refleksi bahwa jabatan memiliki batas waktu, tetapi nilai perjuangan dan pengabdian seharusnya tidak berhenti ketika masa kepemimpinan berakhir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *