Ayah… Bangun, Yah… Kakak sama Aku Janji Nggak Akan Minta Uang Sekolah Lagi

Ironi Dalam Negeri Ini

banner 120x600

Mojokèrto, cekpos.id – Hari ini langit rasanya runtuh. Aku cuma bisa memeluk tubuh Ayah yang sudah dingin, penuh luka dan darah. Orang-orang di sekitar bersorak puas, seolah-olah baru saja mengalahkan musuh besar negara. Padahal yang mereka pukuli sampai tewas itu… Ayahku.
Gara-gara apa, Yah?
Cuma gara-gara seekor ayam.

Ayah bukan penjahat, Ayah bukan pemaling ulung. Ayah cuma seorang buruh harian yang sudah berminggu-minggu bingung. Kemarin malam, aku dengar Ayah dan Ibu bisik-bisik di dapur. Surat tagihan uang sekolahku dan Kakak sudah menumpuk. Kalau minggu ini tidak dibayar, kami terancam dikeluarkan.

Ayah nggak punya apa-apa lagi untuk dijual. Tapi Ayah cuma nggak mau melihat anak-anaknya putus sekolah dan bernasib sama seperti Ayah…
Pagi tadi, Ayah nekat. Dengan tangan gemetar, Ayah mengambil seekor ayam warga demi bisa mendapatkan uang untuk bayar uang sekolah kami.

Tapi takdir berkata lain… Ayah ketahuan.
Tanpa diuji, tanpa didengar penjelasannya, teriakan “Maling!” langsung disambut pukulan, tendangan, dan lemparan batu oleh puluhan orang. Ayah memohon, Ayah ampun-ampun, tapi suara Ayah tenggelam oleh emosi warga. Sampai akhirnya… nafas Ayah terhenti di atas tanah keras.

Lucunya negeri ini.
Para koruptor yang mencuri uang rakyat berliun-liun, yang merampas masa depan jutaan anak bangsa, berjalan melambaikan tangan dengan rompi oranye. Mereka dijaga ketat, dikawal aparat, disiapkan pengacara terbaik, dan tidur di kamar ber-AC.

Tapi seorang ayah yang nekat mencuri seekor ayam demi pendidikan anak-anaknya… dihakimi sampai mati di jalanan.

Nilai nyawa Ayah ternyata tak lebih mahal dari seekor ayam di mata manusia.
Selamat jalan, Ayah… Maafkan kami yang sudah jadi bebanmu. Kami janji, kami nggak akan minta sekolah lagi kalau harganya harus dibayar dengan nyawa Ayah. (Opini)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *