Jombang, Cekpos.id — Tradisi tahunan Kenduri Durian (KenDuren) di Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, terancam tidak digelar pada 2026. Penurunan hasil panen durian akibat cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir menjadi penyebab utama.
Sejumlah petani mengaku produksi durian tahun ini merosot drastis. Agus Arminto, petani asal Desa Sambirejo, Wonosalam, menyebut peluang penyelenggaraan pesta panen tersebut sangat kecil.
Kalau melihat situasi sekarang, kemungkinan digelarnya kenduri sangat kecil. Hasil panen turun jauh dari biasanya,” ujarnya saat ditemui di Desa Sambirejo, Kamis (12/2/2026).
Biasanya, KenDuren digelar pada Februari hingga Maret, bertepatan dengan puncak musim panen. Namun curah hujan tinggi yang melanda kawasan Wonosalam membuat banyak bunga durian berguguran sebelum berkembang menjadi buah.
Menurut Agus, penurunan produksi tahun ini mencapai sekitar 75 persen dibandingkan musim normal. Hanya sekitar seperempat pohon yang mampu berbuah.
“Banyak bunga yang rontok karena hujan terus-menerus. Selain itu, kualitas buah juga menurun, rasanya tidak semanis biasanya,” katanya.
Ia menuturkan para petani sebenarnya telah melakukan berbagai upaya perawatan, seperti pemupukan rutin dan pemberian dolomit untuk menjaga kesuburan tanah. Namun cuaca yang tidak menentu membuat hasil panen tetap terdampak.
“Perawatan tetap jalan, tapi kalau cuaca tidak bersahabat, hasilnya tetap tidak maksimal,” tambahnya.
Penurunan produksi tersebut turut berdampak pada pendapatan petani. Agus mengaku penghasilannya merosot hingga sekitar 75 persen. Meski harga jual durian mengalami kenaikan, hal itu belum mampu menutup kerugian akibat minimnya hasil panen.
Ia menyebut kondisi serupa dialami hampir seluruh petani di wilayah Wonosalam. Banyak kebun yang pohonnya tidak berbuah optimal tahun ini.
“Kondisinya hampir merata. Banyak pohon yang tidak menghasilkan,” ungkapnya.
Para petani berharap cuaca segera membaik agar musim panen berikutnya kembali normal. Mereka juga berharap tradisi Kenduri Durian, yang menjadi ikon wisata dan budaya Wonosalam, dapat kembali digelar seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sebagai informasi, Kenduri Durian Wonosalam merupakan perayaan tahunan sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen. Acara ini identik dengan arak-arakan tumpeng durian raksasa yang tersusun dari ribuan buah kiriman sembilan desa, kemudian dibagikan dan diperebutkan masyarakat secara gratis.














