Surabaya, Cekpos.id — Hari Kebangkitan Nasional ke-118 tahun, mengenang sejarah berdirinya Boedi Oetomo (Budi Utomo) pada 20 mei 1908. Organisasi yang di dirikan oleh Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohusodo, H.O.S. Tjokroaminoto, Ki Hajar Dewantara, Eduard Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo dan mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA) di Jakarta, tonggak awal pergerakan nasional yang terorganisir di tanah air. Sebelum tahun 1908, perlawanan terhadap penjajah lebih bersifat lokal dan sporadis.
Pada masa sistem imperialisme dan kolonialisme pemerintahan Belanda, masyarakat pribumi mengalami penderitaan yang berkepanjangan dan tereksploitasi ekonominya, juga politik liberal yang diterapkan, membuat Eduard Douwes Dekker menulis novel berjudul “Max Havelaar” berisi tentang kecaman kebijakan pemerintah kolonial dan menuntut agar Belanda tidak tutup mata terhadap kesengsaraan rakyat jajahannya sehingga melahirkan kebijakan pemerintah Belanda terhadap rakyat jajahannya bernama “Politik Etis” berisi tiga program utama meliputi irigasi, edukasi, dan transmigrasi.
Boedi Oetomo lahir dari keresahan penderitaan rakyat Indonesia akibat penjajahan, bergerak melalui bidang sosial dan budaya, tanpa terlibat langsung dalam urusan politik. Organisasi berfokus pada peningkatan kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan sebagai sarana membangkitkan kesadaran nasional untuk memperbaiki kondisi rakyat pribumi serta menjadi inspirasi dari berbagai organisasi pergerakan lain yang lebih politis.
Hari Kebangkitan Nasional bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi menjadi pengingat akan pentingnya persatuan, semangat gotong royong, nasionalisme dan mempertahankan keutuhan bangsa dan negara diberbagai krisis. Tekad kebangkitan nasional mesti diwariskan dari generasi ke generasi, dijadikan fondasi dalam menjaga kedaulatan bangsa dan negara, serta menghadirkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Boedi Oetomo menjadi pemicu perjuangan untuk melepaskan bangsa dan negara ini dari belenggu penjajahan. Boedi Oetomo dikenal sebagai organisasi modern pertama di Indonesia yang menanamkan rasa nasionalisme. Kesadaran inilah yang membangkitkan para pemuda pemudi untuk berjuang melawan kolonialisme Hindia Belanda. Perjuangan bangsa Indonesia belum selesai, dan musuh kita saat ini bukan kolonialisme Hindia Belanda, tetapi bangsa dan negara kita sendiri.
Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar pelaksanaan kata-kata, atau kegiatan yang bersifat seremonial tetapi dijadikan momentum untuk melakukan refleksi dari nilai-nilai keteladanan kepahlawanan. Pemerintah serta seluruh perwakilan rakyat yang saat ini menjabat dan masyarakat, semestinya menghormati jasa para pejuang kemerdekaan yang masih hidup dengan memberikan “kesejahteraan” atau jaminan hidup layak kepada para veteran yang kehidupannya terlantar.
Tumbangkah? Atau ditumbangkan nasionalisme! Merujuk ke beberapa soal, namun umumnya mengacu pada penurunan semangat kesadaran serta loyalitas terhadap bangsa dan negara. Hal ini bisa terjadi dari berbagai faktor, seperti krisis ekonomi akibat ketidakmampuan pemerintah mengatasi masalah ekonomi dan kesejahteraan, yang dapat memicu ketidakpercayaan rakyat atau masyarakat terhadap pemerintah dan perwakilan rakyat hingga pada akhirnya dapat merusak semangat nasionalisme. Ketidakadilan sosial tengah terjadi di masyarakat terutama kalangan masyarakat bawah seperti kesenjangan antara kaya dan miskin, memicu rasa kecewa dan ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada, sehingga menggerogoti semangat nasionalisme.
Ketidakmampuan Presiden dan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat di dalam mengemban amanah, dan tidak memiliki visi misi yang jelas, atau bahkan bertindak Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN), membuat masyarakat kehilangan kepercayaan dan semangat untuk membangun bangsa dan negara. Belum lagi terhadap pengaruh ideologi lain, seperti globalisme atau sekularisme yang dapat merusak semangat nasionalisme dikarenakan mengutamakan kepentingan pribadi dan kelompok tertentu.














