Bangkalan, Cekpos.id – Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, suasana di Bangkalan dipenuhi semangat kemenangan. Jalan-jalan utama seperti Tanah Merah dan sekitarnya mulai ramai oleh warga yang berbelanja kebutuhan Lebaran. Pasar tradisional, terutama Pasar Tanah Merah, dipadati masyarakat yang berburu ayam, ketupat, hingga bumbu opor ayam. Aroma masakan khas Idul Fitri berpadu dengan riuh suara pedagang yang menawarkan dagangan, menciptakan atmosfer penuh kehangatan.
Di kampung-kampung, anak-anak berlarian sambil menyalakan petasan kecil, sementara para ibu sibuk menyiapkan hidangan untuk menyambut tamu. Malam takbiran di Bangkalan menjadi momen istimewa: suara bedug bergema dari masjid-masjid, diiringi lantunan takbir yang menggema hingga ke sudut desa. Konvoi warga membawa obor dan lampu hias menambah semarak, menghadirkan pemandangan penuh kebersamaan.
Di tengah semarak itu, keluarga besar LSM Triga Nusantara Indonesia (TRINUSA) turut menyampaikan pesan kebersamaan. Ketua LSM DPD Jawa Timur, H. Hafadoh, bersama jajaran staf dan anggota, menegaskan bahwa Idul Fitri bukan hanya perayaan, melainkan momentum untuk mempererat tali silaturahmi dan menumbuhkan semangat persaudaraan.
> “Kami segenap keluarga besar LSM TRINUSA mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin,” ujar H. Hafadoh dengan penuh kehangatan.
Ucapan itu disampaikan dengan harapan agar masyarakat dapat kembali ke fitrah, menjalani kehidupan dengan hati yang bersih, serta senantiasa diberi kesehatan, kedamaian, dan keberkahan. Lebih dari itu, Idul Fitri diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat kepedulian sosial dan menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat Bangkalan.
Lebaran di Bangkalan juga tak lepas dari tradisi khas Madura yang dikenal sebagai Tellasan Topak atau Lebaran Ketupat. Tradisi ini dirayakan pada hari kedelapan bulan Syawal, di mana warga membuat ketupat dalam jumlah besar lalu saling bertukar makanan dengan tetangga. Acara biasanya dilanjutkan dengan doa bersama di mushola atau masjid, sebagai simbol syukur atas kemenangan puasa.
Selain ketupat, kuliner khas seperti soto tongkol juga menjadi sajian istimewa di beberapa desa, terutama di Kecamatan Tanjung Bumi. Hidangan ini disajikan kepada tamu selama beberapa hari berturut-turut setelah Lebaran Ketupat, menjadi identitas kuliner Bangkalan yang memperkuat nuansa kebersamaan.
Suasana kebersamaan semakin terasa di kampung padat penduduk. Warga saling berkunjung, bersalaman, dan berbagi hidangan khas Lebaran seperti ketupat, opor ayam, dan sambal goreng ati. Anak-anak dengan wajah ceria menerima angpao dari para tetua, sementara orang tua tersenyum bahagia melihat keluarga besar berkumpul. Semangat saling memaafkan seolah menjadi benang merah yang menyatukan semua perbedaan.
> “Semoga semangat kebersamaan dan saling memaafkan terus terjaga, sehingga tercipta kehidupan yang harmonis dan penuh kedamaian,” pungkas Syaiful Baiturrochman, salah satu pengurus TRINUSA.
Lebaran di Bangkalan bukan hanya tentang keramaian pasar dan takbiran, tetapi juga tentang tradisi lokal yang unik. Dari Tellasan Topak hingga soto tongkol, semuanya menegaskan bahwa Idul Fitri di Bangkalan adalah perayaan budaya, kuliner, dan kebersamaan yang diwariskan turun-temurun. Pesan TRINUSA hadir sebagai pengingat bahwa Idul Fitri adalah momentum untuk memperkuat silaturahmi, menjaga persatuan, dan menumbuhkan kepedulian sosial di tengah keberagaman masyarakat.














