Polemik OTT Dugaan Pemerasan Di Kabupaten Mojokerto, Pemred Cekpos : Lebih Baik Ambil Langkah Bijak

Akhiri Polemik Kondusifitas Wilayah Terjaga

banner 120x600

Mojokerto, cekpos.id – Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang terjadi di Kabupaten Mojokerto terhadap oknum wartawan dalam dugaan pemerasan terhadap pengacara menjadi perbincangan semua kalangan masyarakat, lembaga maupun instansi.

Polemik ini seolah – olah mempertontonkan perseteruan atau ketidak harmonisan antara instansi kepolisan, pengacara dan wartawan. Dari polemik ini, menimbulkan berbagai macam pemikiran atau pemahaman yang berbeda – beda.

Hal ini mendapat tanggapan dari pemimpin redaksi media online cekpos.id, Moch Syaiful. Ia berharap polemik ini segera diakhiri agar situasi dan kondisi keamanan serta ketertiban (kamtibmas), khususnya di wilayah Kabupaten Mojokerto dapat tetap kondusif, Selasa (24/03/2026).

“Lebih baik ambil langkah bijak. Semuanya harus duduk bersama, diantaranya, Kapolres Mojokerto, perwakilan wartawan, pengacara, oknum wartawan yang ditangkap, keluarga pasien yang direhabilitasi dan juga pengelola tempat rehabilitasinya secara terbuka. Bukan untuk saling menyalahkan ataupun mencari pembenaran diri. Melainkan mengurai akar permasalahan serta saling memberikan kritik yang membangun,” katanya.

Ia berharap, Kapolres Mojokerto, AKBP Dr.(C) Andi Yudha Pranata, S.H., S.I.K., M.Si., dapat mengumpulkan semua yang terlibat dalam polemik ini dengan undangan atau audiensi. Karena, jika ini berlarut – larut, tentunya seperti bola api yang akan membakar banyak ladang.

“Polemik ini, sudah banyak menimbulkan prasangka – prasangka atau pro kontra yang belum tentu kebenarannya, baik dikalangan masyarakat, kalangan wartawan, dikalangan advokat dan dikalangan instansi kepolisian sendiri. Harus segera diredam dan tidak menimbulkan dampak yang lebih luas,” ungkapnya.

Pria kelahiran Surabaya tersebut ingin semuanya berhenti melakukan pro kontra yang akhirnya semakin memperkeruh polemik dalam perkara OTT oknum wartawan tersebut, sebelum benar – benar mengetahui duduk permasalahannya dari keterangan seluruh pihak.

“Semuanya harus bersatu padu mengutamakan kondusifitas wilayah. Jangan memaksakan ego masing – masing yang merasa paling benar. Paling tidak, harus memiliki rasa malu jika wilayah yang kita huni menjadi perbincangan buruk dari orang – orang yang ada di wilayah lain,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *