Pasutri Spesialis Curanmor: Kisah di Balik Penangkapan

banner 120x600

Surabaya, Cekpos.id – Suasana kedai kopi di kawasan Gwalk, Sambikerep, Surabaya, yang biasanya ramai dengan obrolan santai, mendadak berubah tegang pada Selasa (24/3/2026). Di tempat itulah, pasangan suami istri Lucky Darmawan (46) dan Wilujeng Prihartini (38) menjalankan aksi yang akhirnya menjadi pintu masuk bagi polisi membongkar sepak terjang mereka sebagai pelaku pencurian kendaraan bermotor lintas kota.

 

Lucky, warga Karah, Jambangan, dan Wilujeng, warga Nginden Jangkungan, Surabaya, selama ini dikenal tetangga sebagai pasangan biasa. Namun di balik kehidupan rumah tangga mereka, tersimpan aktivitas gelap yang meresahkan masyarakat. Dengan motor Honda Karisma, keduanya berkeliling mencari sasaran. Lucky berperan sebagai eksekutor, sementara Wilujeng mengawasi situasi sekitar.

 

Kapolsek Lakarsantri, Kompol Imam Solikin, mengungkapkan bahwa modus mereka sederhana namun efektif. “Tersangka mencuri motor Honda Vario milik korban dengan cara merusak kunci setir menggunakan kunci T. Setelah itu, motor dibawa kabur dan dijual ke penadah,” jelasnya. Dari hasil pengembangan, polisi menemukan delapan lokasi berbeda di Surabaya dan Kediri yang pernah menjadi ajang kejahatan mereka.

 

Motor curian dijual dengan harga Rp2,5 juta kepada penadah berinisial S di Kedung Cangkring, Sidoarjo. Uang hasil penjualan digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. “Mereka mengaku terdesak ekonomi. Namun alasan itu tidak bisa membenarkan tindakan kriminal,” tambah Imam.

 

Di balik kasus ini, terselip kisah tentang bagaimana tekanan hidup bisa menjerumuskan seseorang. Wilujeng, yang seharusnya menjadi penopang keluarga, justru ikut terlibat aktif dalam kejahatan. Perannya sebagai pengawas menunjukkan bahwa aksi ini bukan sekadar spontanitas, melainkan hasil kerja sama yang terencana.

 

Bagi korban, kehilangan motor bukan hanya soal materi. Motor adalah sarana mobilitas, alat mencari nafkah, bahkan simbol kemandirian. Dampak psikologis dan sosial dari curanmor sering kali lebih besar daripada nilai jual motor itu sendiri.

 

Kini, pasangan ini harus menghadapi konsekuensi hukum. Polisi masih menelusuri jaringan penadah dan kemungkinan keterlibatan pihak lain. Penangkapan mereka menjadi pengingat bahwa kejahatan bisa dilakukan siapa saja, bahkan oleh pasangan yang tampak biasa di mata masyarakat.

 

Kasus Lucky dan Wilujeng bukan hanya cerita kriminal, tetapi juga potret tentang rapuhnya kehidupan rumah tangga ketika dihadapkan pada tekanan ekonomi. Di satu sisi, masyarakat menuntut keadilan atas kerugian yang ditimbulkan. Di sisi lain, kisah ini membuka mata bahwa pencegahan kejahatan juga perlu menyentuh akar persoalan sosial: kemiskinan, kebutuhan hidup, dan lemahnya kontrol keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *