Bangkalan, cekpos.id — Dibalik pengakuan sebagai korban penganiayaan yang disampaikan seorang perempuan di Bangkalan, tersimpan kisah panjang yang memantik beragam reaksi publik. Di lingkungannya, perempuan tersebut dikenal memiliki perilaku yang dinilai inkonsisten dan kerap menimbulkan konflik, hingga sebagian warga menyematkan istilah metaforis “ular” untuk menggambarkan sikapnya.
Istilah itu bukan tanpa alasan. Menurut sejumlah pandangan yang berkembang, perempuan tersebut dinilai kerap “mematok” siapa saja yang berada di sekitarnya bahkan orang yang selama ini dianggap dekat dan melindunginya. Sebuah gambaran sosial yang lahir dari pengalaman kolektif, bukan semata-mata tudingan personal.
Menanggapi polemik tersebut, Anam menyampaikan opini penguat dari sudut pandang norma sosial dan agama. Ia menegaskan bahwa persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai moral yang hidup di tengah masyarakat.
“Dalam norma agama, seorang istri dilarang membuka aib rumah tangganya ke ruang publik. Apalagi sampai mengaku janda, padahal secara hukum dan agama masih terikat dalam perkawinan yang sah. Itu jelas melanggar norma agama dan etika sosial,” tegas Anam.
Menurut Anam, klaim sepihak yang disampaikan ke publik tanpa kejujuran status dan tanpa mempertimbangkan dampak sosial justru berpotensi menyesatkan opini masyarakat. Ia menilai, sikap semacam ini bukan hanya melukai relasi personal, tetapi juga mencederai nilai kesakralan institusi keluarga yang dijunjung tinggi dalam ajaran agama.
“Ketika seseorang dengan mudah membalikkan fakta, mengorbankan orang lain demi membangun citra diri sebagai korban, maka wajar jika masyarakat menilai perilaku itu seperti ‘ular’ yang mematuk siapa pun, termasuk tuannya sendiri,” lanjutnya.
Meski demikian, Anam menekankan bahwa setiap persoalan seharusnya diselesaikan melalui jalur yang beradab dan bermartabat, bukan dengan membangun narasi sepihak di ruang publik. Ia mengingatkan bahwa luka sosial yang ditinggalkan oleh tuduhan tanpa keseimbangan sering kali jauh lebih dalam dibanding persoalan awalnya.
Di tengah simpang siur klaim dan opini, kisah ini menjadi cermin bagaimana satu pengakuan personal dapat berubah menjadi stigma sosial ketika norma, kejujuran, dan etika diabaikan. Sebuah pelajaran bahwa dalam mencari keadilan, kejujuran dan tanggung jawab moral tetap harus menjadi pijakan utama.














