Pasuruan, Cekpos.id – Gelombang protes mahasiswa menyelimuti halaman Rektorat Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Pasuruan pada Jumat (13/02). Massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa UNU-STAIS Pasuruan menggelar aksi damai untuk menuntut kejelasan terkait mandeknya regenerasi organisasi serta belum terealisasinya hak identitas mahasiswa berupa jas almamater dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM).
Aksi yang dipimpin oleh *Nur Wahyu H.* selaku Koordinator Lapangan dan di bawah tanggung jawab Presiden Mahasiswa (Presma) UNU Pasuruan, *M. Ubaidillah Abdi*, ini sempat diwarnai kekecewaan. Hal ini dipicu oleh absennya Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan yang seharusnya menjadi otoritas utama dalam menangani isu kemahasiswaan.
*Aksi Tabur Bunga: Simbol Matinya Demokrasi*
Sebelum audiensi dimulai, massa aksi melakukan prosesi teatrikal dengan *menaburkan bunga di depan pintu Rektorat*. Aksi tabur bunga ini dilakukan sebagai simbol duka cita mendalam atas “matinya” demokrasi dan kedaulatan mahasiswa di lingkungan kampus. Mahasiswa menilai, tersumbatnya jalur regenerasi melalui penundaan Kongres adalah bentuk pembunuhan karakter kepemimpinan mahasiswa secara perlahan.
*Kritik Atas Kelumpuhan Demokrasi dan Hak Mahasiswa*
Dalam orasinya, perwakilan aliansi menegaskan bahwa penundaan Kongres Mahasiswa telah mencederai hak konstitusional yang dijamin oleh *UU No. 12 Tahun 2012*. Mahasiswa secara rinci melayangkan *enam poin tuntutan utama* yaitu:
1. *Realisasi Kongres Mahasiswa:* Menuntut jadwal pasti dalam waktu 3×24 jam.
2. *Pendistribusian Jas Almamater:* Menagih hak fisik yang telah dibayarkan.
3. *Penerbitan KTM Multifungsi:* Menuntut legalitas akses fasilitas kampus.
4. *Transparansi Anggaran:* Mempertanyakan aliran dana almamater dan KTM.
5. *Kompensasi Keterlambatan:* Menuntut ganti rugi atas wanprestasi layanan.
6. *Stop Intervensi Birokrasi:* Menuntut otonomi ormawa tanpa dalih restrukturisasi.
Tensi aksi mereda setelah Dr. Abu Amar Bustomi, M.Si selaku Rektor UNU Pasuruan turun langsung menemui massa. Menanggapi tuntutan tersebut, Rektor menjanjikan kepastian dalam waktu yang sangat singkat.
“Segala hal yang dirasa buntu di kampus kita, insyaallah dalam waktu yang sangat dekat, bahkan tidak sampai 3×24 jam, itu sudah bisa terjawab,” ujar Rektor.
Sementara itu, M. Nur Wahyu Hidayat selaku Koordinator Lapangan dalam aksi demo kali ini, dia menyampaikan, demonstrasi ini dilaksanakan dengan mengajak seluruh mahasiswa UNU-STAIS untuk mendesak birokrasi untuk segera mengesahkan kongma yang sudah tertunda sejak Desember kemarin.
“Selain itu juga, untuk mendapatkan hak mahasiswa berupa almamater dan KTM yang belum terpenuhi,” ungkap Wahyu dalam sesi wawancara setelah aksi dilakukan.
Puncak aksi ditandai dengan penyerahan berkas *Policy Brief* dan *Pakta Integritas*. Dokumen tersebut diserahkan langsung oleh perwakilan aliansi untuk ditandatangani oleh Rektor sebagai bukti komitmen hitam di atas putih atas janji yang telah diucapkan.
Langkah ini diambil untuk mengunci janji rektorat agar memiliki kekuatan hukum dan tenggat waktu yang jelas. Aliansi Mahasiswa UNU Pasuruan menegaskan akan terus mengawal kesepakatan ini dan siap melakukan eskalasi gerakan yang lebih besar jika dalam 3 hingga 5 hari ke depan tidak ada realisasi konkret.














